Showing posts with label PROSA. Show all posts
Showing posts with label PROSA. Show all posts

Sunday, April 10, 2016

Hidup Itu Indah

Dalam  menghadapi  kehidupan  ini,  kita  sering  merasa  hidup  begitu
menekan  dan  sulit.  Berbagai  pekerjaan  membuat  kita  melewati  hari  demi
hari  dalam  stres  yang  tak  berkeputusan.  Berbagai  masalah  membuat  kita
tak  mampu  lagi  melihat  hal-hal  yang  indah  dan  menarik  dalam  hidup.
Bahkan  kadangkala  ada  juga  orang  yang  begitu  putus  asa  sehingga
mencoba  mengakhiri  hidupnya  sendiri.  Kalaupun  tidak  seekstrim  itu,
banyak  orang  menjadi  seperti  robot.  Melewati  hari  demi  hari  dalam
rutinitas. Tanpa gairah, tanpa semangat, tanpa harapan.

Dengan  memiliki  harapan  manusia  mempunyai  alasan  untuk  tetap
melanjutkan  hidupnya.  Harapan  membuat  manusia  tidak  pernah  berhenti
berjuang.  Harapan  membuat  manusia  merancangkan  langkah-langkah
yang  tepat  bagi  kelangsungan  hidupnya.  Ini  membuktikan  bahwa  hidup
manusia  itu  berharga  karena  didalamnya  terkandung  nilai-nilai  yang
diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup.

Friday, November 13, 2015

Kepada Para Mantan Tercinta, Dari Kami, Lelaki Yang Sudah Kalian Lupakan.

Kepada para mantan tercinta, dari kami, lelaki yang sudah kalian lupakan.

Membuat tulisan seperti ini adalah sebuah hal yang berat untuk kami. Tapi tidak bisa tidak, ini sesuatu yang harus kami lakukan. Dengan segala resiko cemohoon orang-orang yang tertawa sinis sambil bilang, “dasar gak bisa move on!”. Atau juga amarah kekasih tampan kalian yang sekarang menggandeng tangan kalian dengan bangga dan bahagia.

Ya, kami melakukan ini untuk kalian. Atas nama kenangan. Atas nama impian yang dulu pernah kita bangun bersama. Atas nama mimpi-mimpi bahagia yang pernah menjadi angan-angan.

Mungkin tulisan ini berupa sebuah persembahan terakhir kami kepada kalian, sebelum kami benar-benar menutup halaman kitab suci percintaan yang kini sudah tamat kita selesaikan. Walaupun kisah ini sepertinya tidak berakhir dengan indah, setidaknya kata-kata penutupnya adalah sesuatu yang indah yang bisa kita kenang bersama.

Kenangan..

Kenangan hanyalah sebuah kata pendek yang sederhana. Tetapi maknanya sedalam lautan. Hanya kenanganlah yang dapat membuat kami kuat, namun pada saat yang sama, kenangan pula yang melemahkan kami. Tapi tak apa. Ini adalah sebuah fase dalam kehidupan yang tak mungkin siapa pun hindari.

Kami hanya ingin mengenang masa-masa indah bersama kalian. Masa-masa di mana seolah-olah waktu tak pernah berputar dan kita seperti hidup di dalam keabadian. Masa inilah yang mungkin adalah bagian dari hidup kami yang paling berharga.

Berharga karena ada kalian di dalamnya..

Karena hanya kalian yang membuat kami berharga. Hanya kalian yang bisa membuat kami merasa bagaikan superhero yang rela menembus badai demi seseorang yang kami cintai. Hanya kalian yang membuat malam gelap seolah terang benderang, dan siang menyengat seolah fajar yang sejuk.


Hanya kalian pula yang sanggup membuat kami tertawa karena bahagia, tersenyum kecut lantaran berbuat salah, atau menangis sesenggukan karena tidak dipedulikan. Hanya kalian yang bisa membuat kami belajar lebih rajin agar sukses dalam kuliah. Hanya kalian pula lah yang membuat kami ingin berusaha keras memperbaiki hidup kami yang sudah amburadul sejak awal.

Kalian lah yang selalu memperhatikan apapun yang kami lakukan. Memberikan semangat saat kami putus asa dalam usaha-usaha kami. Sekedar membuatkan masakan kecil untuk kami makan, di kamar kost kami yang sempit dan berbau rokok.

Wajah cantik kalianlah yang selalu tersenyum saat kalian melihat kami kekenyangan oleh pudding pink yang kalian buat, atau sop ayam keasinan yang kalian bawakan. Yang merengut ngambek saat kami datang terlambat di malam minggu. Yang begitu senang saat kami menggandeng tangan kalian di keramaian. Yang begitu bangga memperkenalkan kami kepada teman-teman gaul kalian.

Thursday, July 16, 2015

Aku Menunggu MU Membali RAMADHAN

Mereka sibuk bernyanyi untuk MU
tangan mereka seolah tak kenal rasa capek
mulut mereka bergerak tak seperti biasanya
sampai aku tak mengerti entah itu bahagai atau bersedih ??


Jika memang benar KAU akan pergi
kenapa KAU tak keluarkan satu patah kata ??
KAU sudah menguji “kita” dengan malam MU yang sangat rahasia
kenapa kepergian MU juga menjadi Rahasia bagi ku ..


Aku tak ingin beranjak dari tempat ini
ku rasa “mereka” sudah cukup mewakili dari semua benua
Aku hanya ingin menulis tentang MU saja
tentang KAU yang selalu di tunggu dan menjadi “abid”


KAU tak tampak tapi KAU berasa
bagai gula dalam kopi ku malam ini
KAU datang tidak di jemput pulang pun tak di antar
tapi KAU bukan jelangkung seperti mitos jawa
KAU adalah KAU dan tetap selalu menjadi diri MU
kebanggaan tersendiri jika aku bisa bertemu denga MU lagi
KAU dapat melipat gandakan “apa pun” 
tapi KAU bukan penyihir
KAU punya satu malam yang paling ditunggu setiap “abid”
bukan malam dimana bulan seperti bola mata dengan jutaan hiasan bintang

Apakah benar ini menjadi kemerdekaan jika KAU pergi ??

bukan aku tak yakin tapi aku yang menyayangkan hal itu
buat ku kemerdekaan adalah saat KAU masih bersama “kami”
Kini aku mengulang beberapa kepergian temasuk diri MU
Kini malamku tak lagi bersama MU lagi
Kini KAU akan menjadi momentum yang selalu ku tunggu


aku menunggu MU kembali RAMADHAN


29 Ramadhan 1436 H
#PenikmatSenja

              

Surat Untuk-Mu Ramadhan



Kini KAU pergi
Begitu aku sangat merasa kehilangan Mu
Aku mencoba meraba Rahmat yang ada di setiap Menit Mu
Bulu, tulang sampai darah ku seolah menolak akan kepergian Mu
Seruan, teriakan, semua menjadi gema nada bersama selimut malam

Oh KAU .. 
yang selalu menjadi piala diantara kemenangan setiap insan
Oh Kau ..
Yang selalu menjadi obat dari semua penyakit dunia
Akankah aku bisa bertemu dengan Mu untuk yang kesekian kali
Oh Kau ..
Yang telah pergi

Tak sebanding rasanya jika Kau di bandingkan dengan seribu bulan lainnya
Tak sebanding rasanya jika Kau di bandingkan dengan seribu malam sekali pun.
Karena Kau tak bisa jika dibandingkan hanya dengan nilai yang terbatas

Aku merindukan malam bersama Mu
Aku merindukan malam bergema nada bersama Mu
Aku merindukan malam dengan semua rahmat yang kau bawa
Aku merindukan Mu RAMADHAN

29 ramadhan 1436H

Monday, March 2, 2015

PERBINCANGAN LAHIR DAN BATIN


jiwa ini semakin tak kuasa, hantaman palu pun tak akan terasa, sabitan tanjamnya waktu serasa membunuhku perlahan. Ketakutan dan kekhawatiranku menjadi kenyataan yang dulu sempat dianggap biasa dan berujung binasa. Entah akan lari kemana lagi aku,  aku seperti daun jatuh dari pohon yang tertiup angin tak mengerti mata angin hanya berharap aku tetap bisa menyimpannya. Aku tak lelah bukan juga tak kuat, aku hanya perfikir kenapa semua itu bisa terjadi secara perlahan dan pasti, aku mencoba memandangi kaca tapi tetap sama semu yang ku dapat. Aku mencoba meraungkan wajahku ke sungai diaman kita dulu pernah bersama, entah air yang keruh atau aku yang terlalu kotor.

Tangan kananku mulai kaku seperti es, ku tulis ini hanya dengan tangan kiri dan ingin kusembunyikan dari tangan kananku, aku tak ingin menyakiti mereka. Tuhan… kalau ini sudah menjadi cobaku atau hukum atas karmaku, maka aku ingin yang lebih berat, aku tak menyalahkan siapa atau apa dalam keadaan ini, hanya diriku ini yang perlu disingkirkan.  “harapku dalam hati”

Saturday, February 28, 2015

Senja 28 februari 2015


Tertepi di jalanran sungai terpanjang jawa
Aliran tenang serasa menyembuhkan luka karena waktu.
gemuruh suara muara alir air menebas teriakan jalanan.
sejenak mencoba memanjakan hati yang rapuh bersama ketenangan hakiki.

Aku mencoba gila sesaat dengan bicara bersama angin dan langit yang menemani senja.
Bagaimana kabar sang senja menurutmu wahai angin "tanya ku"
Apa kau tak melihat senja tak lagi seperti dulu saat mendung dan hujan membasahinya "sahut langit"
Biacara apa kau langit?? Dia terlihat bahagia bersama mendung dan badai "cletuk angin"
kenapa kalian bedebat seakan kalian tak pernah mengenal senja "tanya ku dengan ketenangan"
Sebenarnya aku tak tahu bagaimana senja sekarang! Dia seakan mulai pandai bersembunyi tak seperti dulu yang selalu ramah nenyapa kami saat waktu meredupkan matanya "jawab angin dan langit sambil menundukkan kepala"
ternyata benar apa yang aku rasa angin.. langit.. ku kira hanya aku yang tak bisa menikmati senja seperti dulu kalian sahabatnya pun merasakannya "bicaraku dalam sunyi kebisingan"